E-Money menjadi pembicaraan hangat setelah isu adanya biaya admin yang dibebankan jika konsumen melakukan top up. Hal ini dikatakan akan melambatkan usaha pemerintah itu sendiri dalam menciptakan cashless society. Pasalnya, orang-orang akan malas melakuka pembayaran secara elektronik jika untuk mendigitalkan uangnya saja mereka harus mengeluarkan biaya. Tapi, e-money itu apa sih?

E-money merupakan terma yang digunakan untuk merujuk peralihan bentuk pembayaran uang dari fisik ke elektronik.  Terma ini sudah ada sejak lama yang jika ditarik garis bermula dari pernyataan David Chaum dengan istilah uang digital atau DigiCash pada tahun 1983. Karena belum memiliki sarana mumpuni dalam pengembangannya, istilah ini baru kembali dikenal pada tahun 1994. Indonesia sendiri baru mengenal uang elektronik ini setelah salah satu bank swasta menjadikannya inovasi dan fitur. Secara hokum, e-money telah diatur adan diijinkan oleh Bank Indonesia pada 2014 yang membuat lonjakan sekali lagi pada teknologi ini. Terlebih kecanggihan teknologi yang tentu sangat banyak berkembang dibanding dua setengah dekade lalu. 

sumber: www.legaleraindonesia.com

Secara sederhana, e-money lebih dulu dikenal dengan nama kartu kredit  yang merupakan chip atau server yang berisi nominal tertentu layaknya dompet elektronik. Sifatnya yang praktis menjadi pilihan banyak orang yang malas membawa uang cash ataupun tidak sempat mengambil uang di mesin anjungan tunai. Dengan menggunakan kartu kredit, saldo pun akan otomatis berkurang sesuai dengan nominal yang dibayarkan. 

Pendigitalisasi uang pun juga dirambah oleh startup fintech dengan mengembangkan aplikasi, yang selanjutnya disebut e-wallet. Adanya e-wallet memudahkan masyarakat dengan menjangkau lebih banyak bentuk transaksi. Munculnya aplikasi merchant seperti Shopee, Buka Lapak, Tokopedia hingga aplikasi transportasi menjadi faktor kuat mengapa e-wallet makin menjamur karena memberikan kemudahan dalam pembayaran. Tidak hanya itu, kebutuhan rumah tangga ataupun yang remeh namun berferk seperti BPJS, listrik, dan yang umumnya dihadapi di kota besar seperti biaya masuk tol  terganti sebagai bukti Indonesia memasuki era cashless society. 

Meski banyak diklaim makin membuat kita boros, nyatanya kita telah bergerak dalam era cashless society yang sulit dipungkiri juga membawa banyak kemudahan, apa saja?

  1. Mudah 

Menggunakan e-money baik dalam bentuk chip atau server mengeliminasi keterbatasan waktu atau dana (yang dapat ditangguhkan) dalam memenuhi kebutuhan pangan hingga tersier. Formatnya yang simple dan dapat dibawa kemana-mana banyak menjadi alasan mengapa e-money maju selangkah dibanding uang kertas.

sumber: www.kreditpintar.com

2. Beragam penggunaan

Dimulai dari kebutuhan mendasar ataupun memenuhi lifestyle, e-money mengakomodirnya dengan membuatnya sesimpel mungkin. Merchant online shop pun juga mendukungnya dengan menyediakan fitur serupa yang dispesifikasikan untuk aplikasinya tersendiri. Seperti Shopee dengan Shopee Pay atau Gojek dengan layanan Gopay. 

3. Promo dan discount menarik

sumber: dana.id

Faktor lain yang membuat masyarakat lebih milih mengelektronikkan uangnya adalah kemudahan mendapatkan potongan yang tidak didapatkan jika menggunakan pembayaran cash. Dimulai dari diskon sekian persen atau promo menggabungkan beberapa produk dengan harga miring, berbagai fintech tersebut mendulang kepopuleran seperti Dana.  

Bagaimana, apa sudah tercerahkan dengan terma “e-money”? semoga artikel ini bisa jadi rujukan kamu ataupun nonton #RekomendasiTS Episode Kesatu kalau kamu mau belajar dengan cara serba mudah seperti e-money.   

Facebook Comments

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *